Sistem Produksi adalah key factor dalam value chain industri manufaktur. Sistem produksi yang tidak optimal akan berkontribusi rendah pada keseluruhan value chain sehingga pada akhirnya akan menurunkan daya saing. Sebaliknya, sistem produksi yang baik akan meningkatkan produktivitas dan efisiensi yang pada akhirnya akan mendongkrak profit.
Sistem produksi harus dirancang sedemikian rupa agar dapat merespon permintaan pasar dengan baik. Apabila pasar sangat dinamis, maka diperlukan sistem produksi yang cepat dan fleksibel. Namun seringkali strategi manajemen merupakan 2 sisi mata uang, seperti efisiensi vs kecepatan. Efisiensi produksi seringkali harus dilakukan dengan batch size yang besar sehingga akan memperlambat lead time. Tugas kita adalah melakukan kompromi agar pilihan sistem produksi dapat memenuhi tuntunan pasar namun dengan dampak yang masih dapat ditolerir.
Untuk menjamin Kehandalan suatu sistem produksi pada umumnya diukur dengan metode OEE ( Overall Equipment Effectiveness) . Elemen penting dari OEE adalah KETERSEDIAAN, KECEPATAN, dan KUALITAS.
KETERSEDIAAN (AVAILABILITY) dari sistem produksi sangat dipengaruhi oleh ketersediaan bahan dan mesin. MANAJEMEN STOK MATERIAL yang buruk akan menyebabkan tersendatnya sistem produksi, sedang MANAJEMEN PEMELIHARAAN berperan penting dalam meminimalisir unplanned breakdown.
KECEPATAN proses produksi ditentukan oleh seberapa jauh output produksi dapat mencapai design capacity nya. Kemampuan TEKNIK SCHEDULING, FLOW OF PROCESS, dan meminimalisir IDLE TIME adalah faktor kunci dalam mencapai kecepatan produksi.
KUALITAS proses produksi yang baik akan meningkatkan kualitas hasil produksi. REJECT, REPAIR, DAN REWORK yang tinggi akan menurunkan kehandalan sistem produksi. PROCESS CAPABILITY dari suatu sistem produksi haruslah memadai agar kualitas hasil produksi dapat mencapai atau melebihi standard kualitas yang disyaratkan.
Sistem yang baik haruslah dapat diukur dengan objektif. Pengukuran berguna untuk mengetahui kondisi existing sehingga progress suatu sistem dapat diketahui dengan tepat sebagaimana diungkapkan Peter Drucker “If you can’t measure it, you can’t manage it”.
Oleh : Ir. Dwi Andi Handaya Rusman, M.Sc (Principal Consultant, Advis Consulting Indonesia)